Memahami Kembali Gagasan Kartini, Cita-Cita Agus Salim dan Perspektif Jender

id.wikipedia.org

Mengapa Agus Salim? Apa kaitannya dengan perspektif Jender? Mungkin tidak ada! Tetapi cita-cita Agus Salim – seorang pemuda lulusan sekolah menengah di Bukit Tinggi – untuk melanjutkan pendidikan tingginya di Amsterdam telah menarik perhatian R.A. Kartini. Cita-citanya kandas karena ketiadaan biaya. Berita tentang Agus Salim tersebut akhirnya terdengar juga oleh R.A. Kartini yang juga gagal berangkat ke Holland untuk meneruskan sekolahnya akibat tradisi pingitan. Sehingga waktu itu R.A. Kartini tergugah hatinya untuk mengalihkan beasiswanya dari pemerintah Hindia Belanda pada Agus Salim. Meskipun akhirnya tawaran tersebut ditolak, tetapi ketulusan R.A.Kartini untuk membantu si adik Agus Salim merupakan cerita haru yang tak bisa dibantah. Dalam kisah lain, Agus Salim menolak beasiswa tersebut hanya lantaran pemerintah Hindia Belanda memberikannya setelah adanya permohonan dari orang lain, bukan didasarkan kepada prestasi akademiknya. Agus Salim mengatakan bahwa memang sudah selayaknya dia mendapat beasiswa bila pemerintah Hindia Belanda menilai dirinya secara jujur.

Hi. Agus Salim. foto: en.wikipedia.org

Kini, dari lidah Agus Salim kita menerima ungkapan: “Jalan pemimpin adalah menderita.” Lantaran goresan pena R.A. Kartini pula, kita sekarang bisa menyelami gagasan dan cita-cita luhur kaum perempuan. Surat-surat R.A. Kartini kepada beberapa orang Belanda dikumpulkan oleh direktur dari Departement Onderwijs en Eeredienst, Mr. J.H. Abendanon, dan pada 1911 diterbitkan sebagai buku yang berjudul: “Door duisternis tot Licht”. Buku yang kemudian disalin dalam bahasa Indonesia oleh Armijn Pane dengan judul: “Habis Gelap, Terbitlah Terang” dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Dalam bahasa Sunda diberi judul: “Tina Poek ka noe tjaang”.

id.wikipedia

Ibu Kartini – begitu kita biasa menyebutnya- menuturkan cita-cita serta keinginannya agar perempuan pribumi Hindia-Belanda dapat bergerak maju dan mendapat pendidikan yang layak. Sebagai sosok perempuan bangsawan Jawa – puteri Bupati Jepara – R.A. Kartini telah menyaksikan dan mengalami sendiri betapa tradisi adat telah menempatkan kaum perempuan pada posisi marjinal. Pada masa itu, kewajiban perempuan pribumi Hindia-Belanda hanya bekerja untuk rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Kaum perempuan diarahkan untuk berbakti pada suaminya dengan sepasrah-pasrahnya. Tujuan pendidikan kaum perempuan kala itu hanya agar mereka dapat menikah belaka. Kaum perempuan masih dipandang sebagai perabot dapur. Mereka tidak boleh banyak menuntut walaupun dipermainkan dan disia-siakan oleh suaminya. Continue reading

Tanah airku yang Indah




REVOLUSI atau TENGGELAM!

SUB JUDUL:
1. Pengantar.
2. Revolusi Indonesia.
3. Mengapa Harus Revolusi?
4. Pro Kontra Revolusi di Indonesia.
5. Demokrasi Semu Akibat UUD Amandemen Keempat.
6. Pemilu 2014 yang akan sia-sia!
7. Koreksi Atas Peristiwa Aksi 1998.
8. Sekilas Tentang Skandal Bank Century
9. Skenario Revolusi.
– Dekrit Rakyat Kembali ke UUD 1945 (yang asli).
– Pernyataan Rakyat untuk Setia pada Landasan Ideologi Pancasila
– Pembentukan MPRS sebagai Penjelmaan Kedaulatan Rakyat.
– Sidang MPRS untuk Menetapkan Presidium Nasional.
– Presidium bersama membentuk Kelengkapan Kenegaraan.
– Sidang MPRS Menetapkan Komisi Amandemen UUD 1945.
– Presidium Mengangkat Panglima ABRI (sesuai pasal 10 UUD 1945).
– Sidang Presidium untuk Membentuk Kabinet Kementerian Sementara.
– Rekonsiliasi Nasional
– Presidium bersama MPRS menetapkan jadwal pemilu.

10. Ucapan Terima Kasih.


1. Pengantar

Tulisan ringkas ini sama sekali tidak membahas teori revolusi atau definisi revolusi dalam arti luas.

Revolusi yang dimaksud dalam tulisan ini tidak lain adalah revolusi ketatanegaraan. Revolusi adalah sebuah perubahan cepat dan fundamental terhadap tatanan ketatanegaraan yang telah usang dan terbukti tidak bisa mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil dan merata.

Dengan begitu, revolusi bermaksud mengubah tatanan yang telah lama berlaku dengan tatanan yang baru. Singkatnya, kalimat subtantif dalam revolusi adalah “GANTI REZIM-GANTI SISTIM”.

Revolusi dengan GANTI REZIM-GANTI SISTIM harus dilakukan secara bersamaan. Revolusi dengan mengganti rezim tanpa mengganti sistim adalah sia-sia belaka. Siapa pun rezim penguasa, tidak mungkin bisa mewujudkan keinginan rakyat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik bila sistim yang digunakan masih sistim lama yang telah terbukti gagal pada masa sebelumnya. Sebaliknya, revolusi untuk mengganti sistim sangat mustahil terwujud bila tanpa mengganti rezim. Sebuah rezim STATUS QUO tidak mungkin akan rela mengganti sistim yang telah melanggengkan kekuasaan mereka.

2. Revolusi Indonesia

Di mana-mana, revolusi memiliki jangkauan harapan dan cita-cita yang sangat jauh, yakni menjadikan kedaulatan rakyat sebagai aturan tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Dalam konteks Indonesia, sebuah revolusi sekarang ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia Baru. Di dalam era Indonesia Baru itulah, Insya Allah, akan tercapai masyarakat adil makmur yang telah lama dicita-citakan.

Revolusi ini tidak mesti berlangsung dengan bersimbah darah. Itu mungkin pernah terjadi terjadi di tempat lain. Tapi di Indonesia, revolusi bisa sedamai 17 Agustus 1945 ketika pejuang Indonesia yang patriotik mengambil alih kekuasaan dari Jepang. Bisa sedamai 1967, saat Soeharto menggantikan Soekarno sebagai Presiden RI. Ketika hampir 2 juta rakyat Indonesia dibantai tanpa melalui pengadilan sepanjang 1966-1968, itu bukanlah akibat revolusi, melainkan karena kebrutalan para begundal rezim Orde Baru. Revolusi juga bisa sedamai 1998. Meskipun itu sebenarnya bukan skenario revolusi, tapi pengalihan kekuasaan dari Soeharto ke Habibie bisa berlangsung dengan damai.

3. Mengapa Harus Revolusi?

NKRI diibaratkan sebuah kapal besar yang berlayar dari pelabuhan Proklamasi 1945. Berlayar untuk mencapai cita-cita mewujudkan masyarakat adil makmur, sejahtera lahir batin dan menjadi bangsa besar yang disegani di dunia.

Tidak akan ada yang bisa membantah bahwa Indonesia adalah bangsa pejuang di samping Aljazair dan Vietnam. Bangsa pejuang yang bercita-cita membebaskan tanah airnya dari cengkeraman panjajah dan melepaskan diri dari penderitaan akibat penjajahan itu. Cita-cita tersebut akhirnya terwujud dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Dalam perjalanan lebih dari 60 tahun kemerdekaan Indonesia, telah banyak gelombang badai yang menerjang. Mulai dari pemberontakan PKI 1948, Agresi Militer I dan II oleh NICA, Peristiwa Pemberontakan G30S, kekuasaan Orde Baru yang represif, Skandal Korupsi Bank Duta dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), Krisis Moneter 1998, Kasus BLBI, Skandal Bank Century hingga kasus mafia peradilan dan perpajakan saat ini.

Sebuah kerikil tajam saja dalam sepatu sudah sangat mengganggu derap langkah seseorang. Sebuah batu karang saja bisa membahayakan keselamatan pelayaran kapal besar yang di dalamnya adalah seluruh rakyat Indonesia beserta kekayaan tanah air. Indonesia sedang terancam karam. Kapal bocor, angin kencang, ombak tinggi, layar terkoyak, baling-baling macet, gelap gulita, ikan hiu berkerumun, petir menyambar dan penumpang kehausan. Dalam kondisi seperti itu, diperlukan seorang nahkoda yang cerdas, tulus, mampu bertindak cepat dan berani mengambil keputusan. Continue reading

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!